First Experience )

Sebelum baca siapin kopi/teh/susu juga boleh + cemilan yahh, agak panjang soalnya. hehe
Are you ready ..? Cekidoott..


Go to Bandung


Pada liburan awal puasa, saya dan tiga orang sahabat pergi ke Bandung. Kami naik kereta parahyangan kelas bisnis (tidak mampu kalau naik yang eksekutif. Nanti di Bandung tidak bisa makan). Berkumpul di rumah saya jam 8 pagi. Karena kereta parahyangan berangkat dari stasiun Gambir jam setengah 12 siang. Dari rumah saya ke stasiun Depok Lama, naik angkot 07. Ketika sampai di stasiun, kebetulan ada kereta express tujuan stasiun Gambir. Tanpa pikir panjang kami langsung menaikinya. Dingin dan sepi keretanya, tidak seperti kereta ekonomi yang panas (baru pertama kali naik kereta express, makanya norak  banget).

Akhirnya kami sampai di stasiun Gambir jam 10. Saat turun kereta, kami merasa bingung mencari loket kereta parahyangan (baru pertama kali ke stasiun Gambir, jadinya tidak tahu). Ternyata ada satpam, dengan cepat saya bertanya kepada satpam itu. Pertamanya kami dikasih tahu seperti ini “nanti turun, belok ke kanan, ikutin jalan terus, belok kanan lagi, nanti ada perempatan lurus terus”. Aduh, banyak sekali (dalam batin saya). Kemudian dia bertanya ke kami, “inget  kan?” jawab kami “hehehehe” (senyum-senyum tidak jelas). Lalu kata satpamnya, “sini saya antarkan, masa begitu saja bingung, apalagi saya (?).” Dalam hati saya, coba daritadi seperti ini, jadinya sama-sama enak. Tidak lama kemudian sampai juga di tempat loket,  kami semua mengeluarkan uang untuk membeli tiket. Satu orangnya RP30.000. Kereta berangkat jam setengah 12 siang, tetapi sekarang jam setengah 11. Untuk menghabiskan waktu, kami hendak mencari makan. Ketika sampai di tempat makan. Tiba-tiba semua pejual menawarkan makanannya ke kami. Ada yang bilang “pecel lele sini, nasi rames aja dek, enakan mie ayam baso saya dijamin kenyang.” Kami semua bingung, mau makan pakai apa. Lagian udah seperti artis saja, datang-datang dikerubutin. Ketika melihat-lihat, ada nasi padang. Akhirnya pilihan jatuh pada nasi padang pak komar. Abis makan kami bergegas ke kereta dan mencari kursi kami (aduh bingung lagi). Akhirnya ketemu juga (dalam hati lega banget, naik kereta juga akhirnya). Tidak lama kemudian, ada orang menghampiri kami dan berkata, “dek, ini kursi saya, kalau tidak percaya liat saja tiket ini.” Saya menjawab, “Di tiket kami juga ada pak, kalau kursi kami disini.” Terus ada ibu-ibu bicara, “Coba lihat gerbongnya dek.” Waduh, ternyata kami salah masuk gerbong.  Sambil senyum-senyum tidak jelas saya mengambil tas. Kemudian kami pindah (malu banget saya, udah santai-santai tidak tahunya salah tempat). Akhirnya sampai juga di kursi yang sebenarnya. Kereta pun berangkat dan saya istirahat sejenak begitu juga dengan tiga orang teman saya.

Tidak terasa kami sudah sampai di stasiun Bandung jam 3 sore (lama juga yah dari Jakarta ke Bandung naik kereta). Ketika turun kereta, kami mengikuti orang-orang dan keluar stasiun melalui pintu utara (seharusnya lewat pintu selatan). Karena kami semua baru pertama kali ke Bandung, jadinya pake modal berani saja. Setelah keluar stasiun, kami berjalan (sebenarnya tidak tahu, kami menuju ke arah yang benar atau tidak). Wah, ada tukang gorengan, dengan cepat saya langsung bertanya. Akhirnya dapat petunjuk juga dari tukang gorengan (Waduh, tapi agak kurang paham, soalnya dia memberi tahunya memakai bahasa sunda). Kemudian kami barjalan sesuai instruksi si abang tukang gorengan. Setelah itu kami bertanya lagi dan lagi. Dan kami sampai juga di penginapan jam setengah 5. Saya langsung menuju kasur dan istirahat (untuk nanti malam, sahur dan jalan-jalan).

Saya bangun setengah tiga pagi, lalu saya membangunkan yang lain (susah banget dibanguninnya, kaya “kebo” semua). Setelah bangun, kami mencari tempat makan. Waduh, ternyata pada tutup semua (mungkin gara-gara hari pertama puasa, makanya masih sepi). Terpaksa kami berjalan lumayan jauh. Terlihat sebuah cahaya dari tempat di sebuah gang. Akhirnya ada juga tempat makan yang buka dan itu masakan padang (dikarenakan duit yang seadanya dan makanan padang lumayan mahal, terpaksa saya makan pake telor serta sayur. Daripada besok tidak bisa sahur lagi). Yihaaa, nonton OVJ dahulu setelah sahur (kebetulan ada tv di tempat makannya). Setelah nonton, kami segera pulang ke penginapan. Sambil menunggu imsak, kami bercanda tawa. Setelah itu kami mencari mushola/masjid untuk sholat subuh (sholat saja harus ke kampung-kampung, masuk gang. Untung tidak tersesat). Dan kami melanjutkan perjalanan yang tidak tahu akan berakhir dimana (jalanannya lurus terus, tidak ada ujungnya). Kaki pun terasa pegal dan betis juga sudah cenut-cenut, terpaksa kami pulang ke penginapan naik angkutan kota (gimana tidak pegel, jalan selama 2 jam). Sampai di penginapan, saya langsung menuju kasur. Bangun- bangun sore, kemudian mencari makanan untuk buka puasa. Pilihan saya jatuh pada nasi padang (sekarang lauknya mantap, kikil dan perkedel) serta minumnya sup buah yang special (kalau buka puasa, makannya yang enak-enak). Bungkus, kemudian dibawa ke penginapan. Setelah berbuka puasa, kami bermalas-malasan dan beres-beres. Rencananya malam ini kami ingin mengelilingi kota Bandung dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Rute yang akan kami lewati : Stadion PERSIB, Stadion Siliwangi, Gedung Sate, Museum GEOLOGI (tapi sudah tutup), Cihampelas, “Ciwalk”, Dago (sepertinya uang tidak mendukung, nanti disana malah bengong), Monumen Bandung Lautan Api (sepertinya kejauhan), dan tujuan akhir jatuh pada….. taraaaaa Masjid Raya Bandung (sekalian tempat untuk tidur). Ternyata ramai sekali yang beristirahat di masjid. Sampai-sampai kami kebingungan mencari tempat. Ketika mendapatkan tempat untuk istirahat, kami bergantian sholat isya (dua orang sholat dan 2 orang lagi menjaga tempat, takutnya nanti di tempatin orang). Saya merasa sulit untuk tidur, sementara orang lain nyenyak sekali tidurnya (mungkin karena sudah terbiasa). Ditambah nyamuk yang terus berdatangan memburu darah segar saya (kali ini saya memperoleh pelajaran, bahwa banyak orang yang lebih menderita dari saya dan saya harus bersyukur dengan yang saya miliki sekarang ini). Ketika sedang melihat-lihat sekitar, tiba-tiba orang di samping saya terbangun dan menuju pagar yang ada di pinggir masjid (dalam pikiran saya, ini orang ngapaian coba).  Ternyata dia membuang air kecil di pinggir masjid (parah banget ini orang, udah tua, tidak tahu malu). Di masjid, tempat suci, ada kamar mandi juga, males banget). Tidak lama ada yang datang menghampiri orang yang kencing tadi. Ternyata itu pebjaga masjid, dimarah-marahin dia gara-gara kencing sembarangan. Setelah kejadian itu, saya tertidur.

Ketika saya terbangun oleh gigitan nyamuk, ternyata sudah waktunya sahur (tiga orang teman saya sudah bangun). Dan kami segera mencari tempat makan. Pilihan jatuh pada warteg (akhirnya ada warteg juga, tempat makan murah meriah. Karena uang kami hanya sisa untuk biaya pulang). Saya memesan makanan yang lima ribuan, itu juga sudah dapat ikan patin, sayur, dan mie goreng (coba kalau di nasi padang, 10ribu ++ ini). Setelah sahur kami berjalan menuju stasiun Bandung dan naik kereta yang sama seperti berangkat. Di kereta kami semua tertidur karena terlalu lelah. Sampai di Depok jam 10 dan pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, saya melanjutkan tidur yang tertunda di kereta tadi (maklum hobi saya kan tidur, jadi kerjaannya hanya tidur kalau di rumah, hhe). Sekian cerita perjalanan saya dan tiga orang teman dengan waktu yang mendadak dan duit yang seadanya. Terima kasih.

1 komentar: